Keluarga Bali dan Keluarga Siwa

Hindu Bali secara umum dikatakan sebagai penganut konsep Siwa Siddhanta yang berarti secara khusus memuja dewa Siwa. Nah, kalau kita perbandingkan antara keluarga Bali dengan keluarga dewa Siwa, bak membandingkan antara lumpur dan berlian. Tak perlu kita tutupi, memang sifat dan sikap orang Bali terhadap orang luar begitu ramah tamah, sopan santun, terbuka, sangat menghormati, toleransi, suka memberi, pokoknya semua sifat dan sikap yang menyenangkan orang luar yang datang ke Bali.

Sampai di sini, memang itulah anggapan sebagian besar orang luar terhadap orang Bali. Tetapi kita yang sesama etnis Bali tentu punya pandangan berbeda. Mungkin ada teman atau kerabat yang pernah berkeluh kesah kepada Anda tentang keluarganya sendiri. Yang kepada keluarganya sendiri begitu berat hati untuk membantu, sementara kepada orang lain begitu ringan hati membantu.

Sama halnya dalam sebuah badan, baik negeri maupun swasta, semangat kekeluargaan masyarakat Hindu Bali begitu rapuh. Bak kepiting yang saling menginjak satu sama lain demi memperoleh jabatan, kekuasaan dan uang. Bila bertatap muka langsung dengan atasan, menundukkan kepala menunjukkan rasa hormat, tapi di belakang mengumpat atasan karena kalah bersaing. Apalagi masalah warisan, topik yang paling bosan untuk kita dengar. Semua berebut, semua ingin menang sendiri, ingin menguasai sendiri demi kepuasan duniawi. Saudara kandung sendiri disingkirkan. Bermusuhan karena ingin menguasai warisan. Inilah sebenarnya wajah masyarakat Bali secara umum di balik topeng toleransi nan baik hatinya kepada orang luar.

ilustrasi keluarga baliAneh memang… Kembali kepada dewa Siwa, ah, saya yakin dewa Siwa tidak suka melihat pemandangan ini walaupun kita jungkir balik memuja beliau. Padahal beliau sudah menampakkan pelajaran yang begitu berarti, yakni tentang kerukunan berkeluarga. Dari segi apa? Lihatlah kendaraan putra dewa Siwa, Ganesha yaitu seekor tikus. Intip pula kalung dewa Siwa, seekor ular kobra, ular paling berbisa di dunia. Tikus adalah makanan ular, tapi bagaimana pemandangan dalam keluarga Siwa. Satu hal, “rukun”. Bagaikan kucing dan anjing di rumah nenek saya. Begitu pula kendaraannya dewa Siwa, lembu Nandini, lirik pula kendaraan dewi Parwati, seekor kucing besar alias macan. Lembu dan juga tikus itu adalah makanannya macan, tetapi bagaimana pemandangan di keluarga dewa Siwa? Satu kata, “akur”. Di dalam keluarga Siwa ada sekumpulan makhluk yang seharusnya memakan dan dimakan satu sama lain. Tetapi mereka tidak, mereka berkeluarga, dekat satu sama lain. Inilah sesungguhnya pelajaran yang bisa petik dari keluarga dewa Siwa, sosok yang kita agungkan bersama. Andai saja keluarga Bali (keluarga intim, keluarga besar, keluarga besar organisasi) seperti keluarga Siwa, itu baru namanya mempraktekan teori Pawongan.

Catatan:

Foto diambil secara sembarang dari internet, tidak ada maksud  bahwa keadaan mewakili keluarga tersebut. Hanya sebuah ilustrasi keluarga Bali.

Ulasan Singkat Tentang Mantra ‘Puja Tri Sandhya’

Oleh : I Gede Widya Suputra

            Weda merupakan sumber dari ilmu pengetahuan dan sebagai pedoman hidup umat Hindu dan juga seluruh umat manusia dalam menjalani kehidupan yang di dalamnya terkandung nilai-nilai kebenaran yang bersifat universal. Di dalam Pustaka Suci Weda kita juga akan menemukan ratusan ribu sloka dan mantra suci dan juga ilmu pengetahuan lainnya yang semuanya itu disediakan hanya untuk satu tujuan, yakni to harmonize the life of mankind yakni ‘untuk mengharmoniskan kehidupan umat manusia’. Semua sloka dan mantra yang ada di dalam Weda beserta ilmu pengetahuan lainnya ‘disediakan’ untuk dimanfaatkan oleh manusia guna kehidupan yang lebih baik, baik hari ini, esok, dan kehidupan yang akan datang yang jika disimpulkan akan membentuk satu kata yakni ‘keharmonisan’.

Ketika pertempuran di medan perang Kurusetra akan dimulai, Śrī Kṛṣṇa bersabda kepada Arjuna, “…bahwa diantara seluruh jenis yadnya, yadnya pengetahuanlah yang paling utama, sebab yadnya tersebut mampu menyelamatkan diri seseorang dari lautan kelahiran dan kematian”. Dalam kita Bhagavad-gītā IV.36 juga disebutkan, “Walaupun engkau dianggap sebagai orang yang paling berdosa di antara semua orang yang berdosa, namun apabila engkau berada di dalam kapal pengetahuan rohani, engkau akan dapat menyeberangi lautan kesengsaraan.”. Dari sabda dan sloka ini ditegaskan bahwa melalui ilmu penge-tahuanlah ‘keharmonisan’ akan tercapai.

            Jika ulasan di atas dikaitkan dengan mantra ‘Puja Tri Sandhya’ maka akan ditemukan esensinya, yakni mantra yang ada di dalam ‘Puja Tri Sandhya’ merupakan salah satu ilmu pengetahuan suci yang harus diketahui oleh semua pihak yang esensinya sampai saat ini belum banyak diketahui orang. Puja Tri Sandhya merupakan ibu mantra dan intisari dari seluruh mantra-mantra Weda yang mampu membawa umat manusia menuju ke arah kehidupan yang harmonis (moka). Mantra Puja Tri Sandhya merupakan media yang paling sesuai digunakan pada zaman Kali, di mana manusia dalam waktu hidup yang singkat harus berlomba dengan waktu demi memenuhi kebutuhan jasmaninya sehingga manusia tak punya banyak waktu untuk memenuhi kebutuhan rohani seperti yang dilakukan oleh Mahārṣi terdahulu sebagai contoh melakukan tapa yang cukup lama. Dalam sastra suci Weda disebutkan bahwa melakukan ‘Japa’ atau menyebut nama suci Tuhan berulang-ulang merupakan salah satu cara yang paling baik untuk meningkatkan spritualitas seseorang di zaman Kali ini dan dengan melakukan puja ‘Tri Sandhya’ berarti Japa-pun sudah kita lakukan.

Mantra ‘Puja Tri Sandhya’ merupakan intisari dari seluruh mantra-mantra suci Weda, hal ini dikarenakan mantra ‘Puja Tri Sandhya’ telah mencakup segala jenis aspek dan pujian kepada ‘Brahman’ atau Tuhan Yang Maha Esa dan di antaranya; 1. Dengan melakukan ‘Puja Tri Sandhya’ berarti kita telah melakukan Japa, karena kita telah mengucapkan mantra suci ‘Om’ dalam setiap baitnya yang berarti kita telah menyebut akara suci Tuhan secara berulang. Dimana kata ‘Om’ memiliki arti ‘Brahman’. 2. Dengan melakukan ‘Puja Tri Sandhya’ berarti kita telah mengakui dan memuji Keagungan Tuhan dalam bentuk pengucapan ‘mantra Gayatri’ yang terletak pada bait pertama. ‘Gayatri mantra’ adalah mantra yang paling mulia di antara semua mantra. Ia adalah ibu mantra, dinyanyikan oleh semua orang beragama Hindu waktu sembahyang. Mantra ini paling mulia karena :

One reason why the Gayatri is considered to be the most representative prayer in the Vedas is that is capable of possesing “dhi”, higher intelligence which brings him knowledge, material and transendental. What the eye is to the body “dhi” or intelligence is to the mind. (The Call of Vedas, p. 108-109).

Suatu sebab mengapa gayatri dipandang dan yang mewakili segala di dalam Veda ialah karena ia adalah doa untuk daya kekuatan yang dapat dimiliki orang ialah: “dhi” yaitu kecerdasan yang tinggi yang memberikan padanya pengetahuan, materi dan kemampuan mengatasi hal-hal keduniawian. Sebagai halnya mata bagi badan, demikian “dhi” atau kecerdasan untuk pikiran.” Mantra ini berbunyi:

O bhūr bhuva sva

tat savitur vareya

bhargo devasya dhīmahi

dhiyo yo na pracodayāt

Artinya :

Kami menyembah kecemerlangan dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi yang menguasai bumi, langit dan surga, semoga Sang Hyang Widhi menganugrahkan kecerdasan dan semangat pada pikiran kami.

Dengan mengucapkan mantra ini berarti kita telah mengakui keagungan Tuhan yang telah memberi manusia kecerdasan dan pengetahuan yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling beruntung, 3. Dengan melakukan ‘Puja Tri Sandhya’ berarti kita telah mengakui ‘Tuhan hanya satu dan merupakan sumber dari segalanya’ dan beliau disebut ‘Narayana’. Hal ini tercantum dalam bait ke-dua, yang berbunyi :

O nārāyaa eveda sarva              

 yad bhūta yac ca bhavyam

nikalako nirañjano nirvikalpo

nirākhyāta śuddho  devo eko

nārāyaa na dvitīyo ‘sti kaścit

Artinya :

O Tuhan Nārāyaa adalah semua ini, apa yang telah ada dan apa yang akan ada bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah Nārāyaa, Ia hanya satu  tidak ada yang kedua.

Mantra ini adalah salah satu dari suatu rangkaian mantra yang panjang disebut Catur Veda Sirah (Empat Veda Kepala). Catur Veda Sirah ini adalah salinan Nārāyaṇa Upaniṣad, sebuah Upaniṣad kecil. Di sini dinyatakan bahwa Tuhan adalah segalanya yang luputdari segala noda. 4. Dengan melakukan ‘Puja Tri Sandhya’ berarti kita telah mengakui bahwa Tuhan itu Maha Kuasa dan memiliki banyak manifestasi atau nama (visvarupam). Hal ini tercantum dalam bait ketiga, yang berbunyi:

O tva śiva tva mahādeva

īśvara parameśvara

brahmā viṣṇuśca rudraśca

purua parikīrtitā

Artinya:

O Tuhan Engkau disebut sebagai Śiwa, Mahādewa, Īśwara, Parameśwara, Brahmā, Wiṣṇu, Rudra dan Purua.

5. Dengan melakukan ‘Puja Tri Sandhya’ kita telah mengakui kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat. Sehingga pada bait ini kita memohon perlindungan diri kepada Tuhan dan memohon kesucian jiwa dan raga. Adapun bunyi bait keempat dari mantra ‘Puja Tri Sandhya’ sebagai berikut:

O pāpo ‘ha pāpakarmāha                                                                                        

pāpātmā pāpasabhava

trāhi mā puṇḍarīkāka

sabāhyā bhyantara ‘śuci

Artinya:

O Tuhan hamba ini berdosa, perbuatan hamba berdosa, diri hamba berdosa,kelahiran hamba berdosa, lindungilah hamba Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan raga hamba.

Pemuja mengatakan dirinya serba hina serba kurang serba lemah. Hina kerjanya, hina diri pribadinya, hina lahirnya. Karena itu ia mohon kepada Tuhan untuk dilindungi dan dibersihkan dari segala noda. Tuhanlah pelindung tertinggi dan Tuhanlah melimpahkan kesucian untuk dia yang setia mengamalkan ajaran-Nya. Dalam mantra ini pemuja mengatakan pengakuannya bahwa ia adalah mahluk yang lemah. 6. Dengan melakukan ‘Puja Tri Sandhya’ berartikita telah memohon pengampunan dosa kepada Tuhan. Dalam bait ini kita telah mengakui bahwa Tuhan adalah Maha Pelindung dan Penyelamat yang akan mengampuni seluruh dosa dalam wujud Beliau sebagai Sadā Śiwa. Adapun bunyi dari bait ke-lima sebagai berikut:

O kamasva ma mahādeva

sarva prāi hitakara

ma moca sarva pāpebhya

Pālayasva sadāśiva

 

Artinya:

O Tuhan ampunilah hamba, Hyang Widhi yang memberikan kesela-matan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah hamba O Hyang Widhi.

Dalam mantram ini pemuja mengatakan pengakuannya bahwa ia adalah mahluk yang lemah. 7. Dengan melakukan ‘Puja Tri Sandhya’  berarti kita telah memohon pengampunan dosa kepada Tuhan. Kita telah menyadari dan mengakui segala jenis dosa yang telah kita perbuat, baik dosa perbuatan, perkataan, dan pikiran.  Berikut ini adalah mantra dari bait ke-enam ‘Puja Tri Sandhya’:

O kantavya kāyiko doa

kantavyo vāciko mama

kantavyo mānaso doa

tat pramādāt kamasva mām

 

Artinya:

O Tuhan ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa perkataan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalain hamba.

Dalam bait ini disebutkan, apa saja dosa anggota badan, apa saja dosa kata-kata dan apa saja dosa pikiran, pemuja memohon kepada Tuhan untuk diampuni. Manusia tidak dapat bebas dari dosa karena ia diselubungi oleh khilaf dan lalai. Bila seseorang dapatmembersihkan diri dengan amal kebajikan maka kabut kekhilafan yang menyelubungi sang diri akan menipis dan akan memancarkan cahaya kesucian dari sang diri yang meng-antar seseorang ke alam kesadaran. Atas dasar ini kelepasan akan lebih mudah diperoleh.

            Akhirnya setelah mengucapkan mantra terakhir dari ‘Puja Tri Sandhya’ pada bait ke-enam, pemuja lalu mengucapkan mantra penutup, yang bertujuan untuk memperoleh kedamain (keharmonisan) setelah mengucapkan keenam bait yang ada dengan penuh keyakinan dan konsentrasi. Mantra penutup itu berbunyi ‘O Śānti, Śānti, Śānti, O’ yang berarti ‘O Tuhan semoga damai (di hati), damai (di dunia), dan damai (selalu).’ 

            Dari penjabaran tentang mantra ‘Puja Tri Sandhya’ diatas dapat disimpulkan bahwa, mantra ‘Tri Sandhya’ merupakan ibu mantra intisari Weda. Karena dalam mantra ini terdapat mantra Gayatri dan mencakup seluruh aspek. Mulai dari memuji ke-Agungan Tuhan, mengakui bahwa Tuhan hanya satu, mengakui banyak manifestai Tuhan, pengakuan akan dosa yang telah kita lakukan, Memohon perlindungan Tuhan dan mempercayai bahwa Tuhan adalah pengampun seluruh dosa, dan lain-lain. Bukankah ini semua merupakan seluruh dari intisari Weda? Ini adalah ibu mantra yang paling praktis untuk dilakukan di zaman Kali, karena tidak membutuhkan banyak waktu dalam pelaksanaannya. Kita tidak lagi harus melakukan pemujaan hingga berjam-jam. Walaupun singkat dan praktis namun esensi dari ibu mantra ini mencakup ‘Catur Weda’. Dengan demikian hanya dengan melakukan ‘Puja Tri Sandhya’ secara rutin sama halnya dengan kita membaca seluruh sloka-sloka suci Weda guna menuju hidup yang harmonis. Ini membuktikan bahwa Puja Tri Sandhya sangat sempurna, karena seluruh intisari Weda telah tertuang dalam ibu mantra ini. Mantra Puja Tri Sandhya kemudian akan menjadi lebih sempurna lagi jika diikuti dengan melakukan ‘Kramaning Sembah’.

            Singkatnya, Mantra Puja Tri Sandhya merupakan cara yang paling praktis yang digunakan untuk meningkatkan spritualitas dan kualitas hidup seseorang di zaman Kali ini yang mana ibu mantra ini mampu memberi energi postif pada diri seseorang karena dalam ibu mantra ini telah mencakup seluruh intisari Weda. Dengan mengucapkan mantra ini sebanyak tiga kali sehari secara rutin dan penuh dengan keyakinan berarti seseorang tersebut telah melakukan ‘Bhakti’ yang luar biasa kepada ‘Brahman’ untuk menuju keharmonisan hidup (jiwa moksa).

Umat Hindu Bali Harus Militan Terhadap Agama dan Pulau-nya

Oleh: I Gede Widya Suputra*)

 

Bali merupakan satu-satunya Majapahit Kecil yang masih tersisa di Nusantara (Indonesia). Tanpa Bali, nama Indonesia akan kurang dikenal oleh masyarakat dunia. Bahkan dalam lingkup internasional, masyarakat dunia lebih mengenal kata ‘Bali’ daripada kata ‘Indonesia’. Banyak masyarakat luar negeri, sebut saja masyarakat di Eropa yang tidak tahu ‘Negara Indonesia’, namun mengenal nama ‘Bali’. Dari sejumlah warga Eropa yang pernah Saya wawancara, awalnya mereka mengira Bali adalah sebuah Negara dengan budayanya yang  adi luhung yang mayoritas masyarakatnya memeluk agama Hindu. Namun setelah mereka berkunjung ke Bali, ternyata mereka baru menyadari bahwa Bali adalah sebuah provinsi dari sebuah Negara yang bernama Indonesia. Selain itu, diluar negeri nama ‘Indonesia’ menjadi popular karena ada kata ‘Bali’ yang mengikutinya sehingga tak sedikit dari masyarakat internasional mengira bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk Hindu dengan budayanya yang adi luhung, dan lagi-lagi, setelah mereka berkunjung ke Bali, mereka menyadari lagi bahwa Bali adalah provinsi kecil yang unik namun indah, berkarisma, dan memiliki daya tarik yang luar biasa.

Bali merupakan salah satu tulang punggung dari NKRI. Bali adalah Majapahit terakhir yang masih ada. Kontribusi Bali terhadap NKRI sungguh besar. Bali mampu membuat nama Nusantara tetap muncul di ranah Internasional karena begitu masyarakat dunia mengingat Bali dan mencari tahu tentang Bali, berarti mereka telah mengingat Indonesia dan belajar dari Indonesia. Bali mampu membuat nama Indonesia tetap ada dalam kancah Internasional. Lantas apa yang membuat Bali mampu membawa nama Nusantara ke kancah Internasional? Kenapa Bali bisa memiliki daya tarik yang begitu besar? Jawabannya yaitu, karena masyarakat Bali mampu menjadi dirinya sendiri, masyarakat Bali mampu melestarikan warisan budaya nenek moyang mereka yang merupakan warisan-warisan budaya yang adi luhung  yang kaya akan nilai-nilai luhur yang tinggi, seperti ilmu pengethuan, filsafat, seni, sastra, arsitektur, dll.

Suatu bangsa bisa menjadi bangsa yang adi luhung apabila bangsa tersebut mampu menjadi dirnya sendiri, berbuat dan bertindak berdasarkan kearifan lokal. Untuk membuat pulau Bali tetap harmonis dan lestari, tidak cukup hanya sekedar bangga manjdi diri sendiri. Untuk mampu mempertahanakan Bali agar tetap bisa menjadi pulau yang adi luhung dan tidak hancur seperti Majapahit yang ada di pulau Jawa, diperlukan masyarakat Bali yang Militan dan Terdidik. Jangan biarkan Bali seperti Majapahit Jawa, yang hancur karena dirongrong oleh tikus-tikus luar yang menggunakan politik serigala berbulu domba, yang berpura-pura baik, namun menusuk dari belakang dan akhirnya menghancurkan secara perlahan.

Militan dalam konteks ini adalah bukan bertindak anarkis dan saling membunuh serta menghancurkan agama lain. Militan dalam hal ini adalah masyarakat Bali khususnya para pemuda harus mampu mempertahankan budaya, tradisi, kearifan lokal, serta agamanya dalam kondisi apapun. Militan dalam konteks ini dapat juga diinterpretasikan sebagai berikut: 1. Masyarakat Hindu Bali harus mampu memahami agamanya  secara teori (competence) dan aplikasi (performance), 2. Masyarakat Hindu Bali harus memiliki rasa persaudaraan yang tinggi sesama warga Hindu Bali dan sesama umat Hindu, 3. Masyarakat Hindu Bali harus berani bicara, menolak, dan menentang pihak-pihak yang ingin merusak Bali baik secara fisik, moral, maupun melalui ideologi-ideologi luar yang sengaja ditanamkan di Bali, 4. Masyarakat Bali harus mampu membaca situasi di wilayahnya masing-masing serta memiliki rasa jengah khususnya kepada para pendatang yang berniat tidak baik yang bertujuan merusak Bali, 5. Masyarakat Bali harus peka terhadap sekelompok orang yang menggunakan simbol-simbol ke-Hinduan Bali untuk menjebak Hindu Bali kedalam agama tertentu, 6. Masyarakat Bali harus prihatin terhadap fenomena sosial yang kini kerap menimpa Bali seperti: sex bebas, banyaknya kafe-kafe liar, judi, narkoba, banyaknya pemuda yang mabuk-mabukan di jalanan, masalah perebutan setra atau kuburan  dan lain-lain.

Sebagai bahan renungan untuk masyarakat Bali, mari sejenak kita merenung tentang runtuhnya Majapahit. Nusantara dikala itu telah mampu bersatu dengan peradabannya yang adi luhung, baik secara fisik, budaya, sastra, politik, dan ilmu pengetauan. Sedangkan Amerika Serikat yang sekarang menjadi negara adi daya, dikala itu hanya lah sekedar dataran yang luas yang penuh dengan semak belukar. Kemudian muncul lagi sejumlah pertanyaan, mengapa Nusantara yang begitu hebat dikala itu mampu tumbang? Bahkan Mongolia pun harus bertekuk lutut pada Majapahit, karena tak mampu mengalahkan Nusantara saat ingin menginvasi Nusantara. Majapahit tumbang bukan karena nenek moyang kita seorang yang tidak suka berperang demi kebenaran, namun nusantara ini hancur akibat masuknya ideologi luar yang merong-rong pemikiran banyak pemimpin nusantara yang berakibat pada perang saudara. Lalu mengapa ideologi tersebut mampu masuk dan meracuni kebanyakan dari pemimpin-pemimpin Nusantara yang menyebabkan ketidak percayadirian menggunakan jati diri nya sendiri? Itu terjadi karena bangsa kita adalah bangsa yang ramah dan selalu menyambut segala hal baru yang datang tanpa proses filter terlebih dahulu atau dengan kata lain pemimpin Nusantara dikala itu pintar dan intelek namun kurang cerdas.

Tak hanya itu, kebanyakan dari pendatang luar yang membawa ideologi dan budaya luar tersebut bagaikan tikus yang licik dan menggunkan politik serigala berbulu domba. Mereka baik didepan kemudian menusuk dari belakang. Awalnya kedatangan bangsa Arab ke Nusantara telah diberi izin oleh raja-raja Hindu Nusantara. Mereka diberi izin berdagang dan menyebarkan agama. Namun tanpa sepengetahuan raja-raja Hindu, dibelakang mereka menyusun rencana untuk menaklukan. Sedikit demi sedikit mereka menaklukan wilayah pesisir dan akhirnya kerajaan induk pun dirusak dengan cara melakukan penyerangan secara diam-diam dan mendadak. Kemudian wilayah – wilayah yang telah ditaklukan, seluruhnya di-Islamkan. Peninggalan-peninggalan Hindu Budha dihancurkan. Sastra – sastra suci dibakar. Orang-orang yang tak mau beralih menuju Islam di bunuh, dikenai pajak tinggi, dan dijadikan budak. Sungguh penyeberan agama yang sangat keji. Karena Iblis pun tak sperti itu. Itu semua akibat pengaruh buruk bangsa Arab, yang menyebarkan agama melalui budayanya yang penuh dengan doktrin kebencian (Shasangka, 2011). Seharusnya agama disebarkan dengan damai, tanpa ada paksaan, atau ancaman.

Mulai dari sekarang dan saat ini saatnya kita belajar dari pengalaman yang telah terjadi. Karena ilmu pengetahuan serta pemikiran kita tak akan berubah tanpa adanya ke gagalan atau ancaman. Pola fikir manusia tak akan berkembang dan kritis sebelum pernah mengalami yang namanya kegagalan seperti besi baja tak akan menjadi pedang yang tajam dan kuat apabila belum ditempa dengan keras. Begitu halnya dengan pemikiran manusia, tak akan cerdas dan kritis sebelum pernah mengalami kegagalan dan menemui masalah. Seperti kata pepatah pengalaman adalah guru yang terbaik. Melalui tulisan ini Saya mengajak pemuda dan pemudi Hindu, mulai saat ini, mari kita pertahankan pulau kita, kita pertahankan agama kita, kita pertahankan kearifan lokal kita, mari militan untuk menyelamatkan tanah Bali.

Selain itu, melalui tulisan ini Saya juga ingin menyampaikan aspirasi teman-teman Saya dan mungkin aspirasi masyarakat Bali. Banyak masyarakat Bali yang sangat terganggu dengan  bisingnya suara Loud SpeakerMasjid yang begitu keras. Seharusnya Masjid di Bali tidak perlu menggunakan Loud Speaker yang terlalu keras. Kebanyakan dari suara Loud Speaker Masjid sangat besar hingga ke gunung-gunung yang notabene tidak ada umat Islamnya dan juga terdengar ke wilayah yang tidak ada pemeluk Islamnya. Belakangan ini Masjid-Masjid di Bali dengan sengaja diisi Loud Speaker lebih dari satu bahkan hingga lima Loud Speaker. Hal ini menyebabkan kebisingan dan mengganggu keheningan umat Hindu Bali dalam melaksanakan Bhaktinya. Selain itu, beberapa pura Khayangan Jagad di Bali di sebelahnya dibangun Masjid Besar. Bukan Masjidnya yang kami permasalahkan, namun ketika mereka sholat, Loud Speaker itu sangat mengganggu kami-kami umat Hindu di Bali. Adapun solusi yang dapat kami berikan adalah sebagai berikut: 1. Masjid-Masjid yang berdekatan dengan Pura-Pura Umum, Pura Khayangan Jagat, atau Pura Sad Khayangan sebaiknya tidak perlu menggunakan Loud Speaker khususnya saat di Pura tersebut sedang berlangsung upacara-upacara keagamaan atau Pujawali, 2. Masjid boleh saja menggunakan Loud Speaker, namun tidak lebih dari satu serta tidak membuat kebisingan. Loud Speaker Masjid cukuplah hanya untuk didengar oleh warga muslim sekitar bukan dengan tujuan untuk meng Arab kan Bali karena Kami, umat Hindu di Bali sudah memiliki alunan mantra-mantra suci dan kidung-kidung ilahi  untuk kami dengar.

Saya juga berpesan kepada seluruh umat Hindu di Bali agar lebih mencintai produk sendiri. Selagi saudara kita sesama Hindu Bali masih bisa menghasilkan produk sendiri sebaiknya kita membeli produk saudara kita. Olahlah sumberdaya yang ada, dan jangan banyak gengsi. Lihatlah tempat – tempat wisata di Bali banyak didominiasi oleh pendatang luar. Kita jangan mengusir meraka apabila mereka sukses nanti, karena itu melanggar hukum. Yang perlu kita lakukan adalah kita harus berfikir cerdas dan berani bersaing dengan mereka serta mau memanfaatkan dan mengolah potensi yang ada. Masyarakat Bali harus mengurangi rasa gengsinya, karena uang lebih penting dari sebuah rasa gensi. Dengan uang kita bisa merubah nasib, namun gengsi hanya membuat perut lapar dan iri hati. Olahlah sumberdaya yang ada, manfaatkanlah seoptimal mungkin, garaplah lebih awal, sehingga lahan dan sumberdaya kita tidak sepenuhnya dikuasai oleh pendatang.

Singkatnya, mari belajar dari pengalaman dan masa lalu. Bangkitlah, Bangkitlah, dan Bangkitlah Generasi Hindu Bali. Mari kita jaga Bali. kita selamatkan Bali. Kita tak perlu melakukan tindak kekerasan, melakukan pengerusakan, namun yang perlu kita lakukan adalah Berjiwa Militan, berani berpendapat dan berani menantang hal yang dapat merusak Bali. Sudah saatnya masyarakat Bali untuk tidak saling bunuh dan saling tombak dengan saudara sendiri. Sejelek-jeleknya saudara masih lebih baik ketimbang orang lain. Mulai sekarang binalah diri sendiri, keluaraga, sahabat-sahabat, dan lingkungan kita, agar tak tercuci dengan ideologi sesat yang menghancurkan Bali. Kepada semua pihak yang membaca teks ini untuk disebar luaskan kepada seluruh masyarakat Hindu Bali, sebagai masukan dan bahan renungan, demi terciptanya Bali Mandara dan Jagatdita.  Save Our Bali! Satya Dharma!

*) Penulis adalah Pengamat Bahasa, Budaya, dan Peradaban Nusantara.

Email : widyasuputra@gmail.com

Kasihan Binatang Itu!

Sebelum kita berbicara panjang lebar dalam artikel ini, pertama-tama mohon menonton video ini terlebih dahulu:

Pernahkah Anda melihat ada seekor hewan (entah kucing, anjing, ayam, kadal, kodok, ular, burung, dsb.) yang disiksa (dilempari, ditembak diinjak-injak, dibanting, ditendang, ditusuk, direndam dsb. hingga berdarah, meraung/meringkik/merintih kesakitan) oleh seseorang (anak nakal, berandal, dsb.)? Jika pernah, apa yang Anda rasakan? Apakah Anda merasa merasa kasihan/iba/sedih seketika? Kebanyakan dari Anda pasti merasakan demikian ketika Anda menyaksikan kekerasan terhadap seekor hewan tadi dengan mata kepala Anda sendiri. Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa Anda merasa kasihan? Di sinilah kita akan bahas secara psikologi.

Rasa kasihan/iba akan muncul ketika kita melihat sesuatu yang tidak diharapkan terjadi pada orang lain. Dan ini sesungguhnya sudah menjadi naluri manusia. Ada beberapa motif juga yang melatarbelakangi muncul tidaknya rasa kasihan pada kasus di atas. Orang yang kasihan itu memang benar-benar memiliki belas kasihan. Sedangkan ada orang yang terbiasa bahkan senang melihat peristiwa itu, sebab ia memang sudah tidak memiliki rasa pri ke-binatang-an. Bahkan ia sendiri senang melakukan kekerasan seperti tersebut di atas.

Khusus bagi ia yang merasa kasihan, di sini pun ada dua motif yang membedakan. Ia sekadar memakai sudut pandang yang ada di depan mata atau dia memandang dengan sudut pandang di depan dan di belakang mata juga. Apa maksudnya? Kesimpulannya, rasa kasihan seseorang terhadap kasus tersebut cenderung bersifat “anak tiri”, “berat sebelah”, “pilih kasih” – simpulkan menjadi rasa kasihan yang tidak adil. Loh? Kok sudah ada kesimpulan? Apa maksud kesimpulan ini?

Sudut pandang di depan mata, maksudnya adalah ia hanya merasa kasihan hanya ketika dia melihat kejadian itu di depan matanya sendiri. Ia tidak merasa kasihan pada hewan tersebut apabila peristiwa tadi tidak terjadi di depan matanya. Bahkan tanpa mempedulikan peristiwa di belakang mata, ia ternyata pada akhirnya menikmati hasil dari kekerasan tersebut. Apa maksudnya? Setelah Anda menonton video di atas, Anda akan bisa mengerti. Ketika ada kekerasan terhadap hewan dengan motif kejahilan/keisengan terjadi di depan mata langsung, seorang itu sontak mengatakan “Jangan! Kasihan dia. Dia juga berhak untuk hidup.” Namun di sisi lain, di rumahnya, di meja makan yang terbuat dari kaca dengan harga mahal, ia dengan santai menikmati hidangan daging hewan yang begitu lezat. Pertanyaan selanjutnya, kasihankah dia terhadap hewan yang berakhir menjadi makanan tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu pemikiran radikal. Radikal di sini dalam sosiologi bisa berarti berideologi keras/ekstrim/sadis dalam bentuk tindakan. Namun dalam filsafat, radikal ini berarti mengusut sampai ke akar-akarnya dalam bentuk pikiran. Jadi, pengertian radikal yang kita pakai adalah menurut filsafat. Apakah dia kasihan terhadap binatang yang berakhir menjadi santapannya?

  • Mungkin dia tidak tahu bahwa daging hewan tersebut diraih dengan kekerasan, sehingga tidak kasihan
  • Dia tahu, tapi karena dia tidak melihat langsung maka dia tidak kasihan

Jadi, seperti di ataslah yang dimaksud dengan rasa kasihan yang tidak adil. Dia kasihan pada hewan yang disakiti di depan matanya langsung, tapi tidak kasihan dengan hewan yang disakiti di belakang matanya. Dia kasihan dengan hewan tertentu, tetapi tidak pada hewan yang lain. Ini pilih kasih, ini berat sebelah, ini peng-anak-tiri-an, ini tidak adil. Jika ada argumen muncul sebagai berikut:

  • Kasihan karena binatang itu disiksa karena kejahilan/keisengan, jadi tiada gunanya binatang tersebut disiksa…
  • Tidak kasihan binatang itu diberi kekerasan karena berguna untuk membuat makanan…

Semakin tidak adil lagi, sebab binatang yang bisa dijadikan makanan, hak hidupnya boleh direnggut. Kenapa? Kalau kita kaji secara psikologi berkaitan dengan hukum, orang biasa saja seperti di atas sudah terbiasa tidak adil seperti itu, maka tidak heran penegakan hukum di negara ini juga tidak adil. Dari hal kecil sudah tidak adil.

Saran:

Setelah membaca artikel ini mungkin Anda ingin menumbuhkan kembangkan semangat kasihan/iba yang adil. Untuk mewujudkan hal itu, Vedasastra menyarankan agar Anda download dan tonton terus berulang kali video di atas. Secara psikologi akan membantu menumbuhkembangkan rasa kasihan/iba yang adil dan universal. Bukankah dharma adalah kebenaran universal? :-)

Catatan:

Teguh pada prinsip itu memang sulit sekali dan begitu dilematis, penulis sendiri tidak seteguh itu sepenuhnya. Sebab penulis sendiri suka olahraga bulu tangkis yang menggunakan shuttercock. Tapi ada pepatah, “Lebih baik telat daripada tidak datang sama sekali.” Jadi, sama halnya dalam hal ini “Lebih baik mengurangi daripada tidak sama sekali.”

Banjar: Agama Hindu = Agama Kelompok?

Agama Hindu = Agama Kelompok?

Apa itu agama? Kita simpelkan sebagai suatu pedoman keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang juga memuat pedoman hidup di dunia ini. Pada dasarnya keyakinan itu sifatnya subyektif sekali. Kita tidak bisa memaksakan suatu keyakinan terhadap orang lain, apalagi bertingkah laku sesuai keyakinan yang tidak diyakininya.

Keyakinan akan Tuhan sesungguhnya bersifat pribadi, antara seseorang dengan Tuhan yang diyakininya. Dan pada dasarnya orang lain tidak berhak ikut campur dalam mengatur cara keyakinannya menurut suatu kelompok manusia tertentu.

Tetapi kita menemukan pemandangan yang berbeda di Bali, dan juga di Lombok. Ada sebuah lembaga adat, yang disebut banjar. Banjar seharusnya sebagai lembaga adat yang berarti tempat berkegiatan dan melestarikan kesenian budaya. Akan tetapi kini telah berkecimpung sebagai lembaga agama. Banjar ini menampilkan bahwa seakan-akan agama Hindu itu adalah agama kelompok, bukan agama pribadi. Sehingga kerap kali sembahyang kepada Tuhan diatur oleh lembaga tersebut.

Lembaga ini mematok berbagai kewajiban yang tanpa ia sadari bahwa kemampuan setiap anggotanya berbeda-beda. Baik dari segi ekonomi, tenaga dan waktu. Secara tak kasat mata, lembaga ini memaksa warga di sekitarnya untuk ikut bergabung. Sebab jika tidak ikut, maka konsekuensinya adalah tidak terpenuhinya layanan sosial warga setempat. Misalnya penggunaan tempat pemakaman. Dan lebih disesalkan, bahwa warga setempat yang tidak ikut bergabung akan dikucilkan.

Warga siapa yang dimaksud? Tak lain dan tak bukan adalah warga beragama Hindu. Sementara warga umat lain seolah mendapat hak bebas dari hukum adat. Oleh karena ini, keberadaan banjar begitu membingungkan. Apakah ia adalah lembaga adat dengan hukum adatnya atau lembaga agama Hindu dengan berpedoman pada hukum agama Hindu. Ataukah lembaga sosial yang mengurusi layanan publik. Ataukah banjar itu mencakup semua bidang tersebut?

Lembaga agama, adalah lembaga yang mengurusi keagamaan, yang umumnya mengatur kegiatan masyarakat agar lebih sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Sehingga lembaga ini berupaya menerapkan hukum agama di masyarakat beragama.

Lembaga sosial, adalah lembaga yang mengatur interaksi sosial dan yang melayani kebutuhan sosial. Tentunya hukum negara yang menjadi pedoman di sini.

Lembaga adat, adalah lembaga yang mengatur seluruh warga di suatu wilayah adat tersebut demi keberlangsungan dan kelestarian budaya dan tradisi.

Banjar sebagai lembaga agama, banjar kerap mengatur bagaimana kewajiban anggotanya untuk melakukan kegiatan agama secara berkelompok. Baik dengan menyumbang tenaga, waktu dan hartanya demi keberlangsungan keagamaan di wilayah adat setempat. Akan tetapi sebagai lembaga agama, ternyata banjar kebanyakan tidak memenuhi standar sebagai lembaga pelestarian agama. Sebab benih-benih agama Hindu yang bersumber pada pustaka suci Veda tidak ditanam pada segenap anggotanya. Ia hanya sebagai lembaga yang mengatur upacara keagamaan yang sesungguhnya berbasis budaya.

Banjar sebagai lembaga adat, menjadi tempat berkegiatan adat seluruh warga asli setempat. Tetapi lembaga ini kebanyakan sifatnya memaksa. Tanpa menimbang apakah warganya mampu atau tidak baik dari segi waktu, profesi, ekonomi dan tenaga. Intinya ia memaksa setiap warga untuk wajib aktif berkegiatan. Sehingga disiplin datang ke banjar lebih dihargai daripada orang yang disiplin datang ke kantor sebagai PNS. Sedangkan tidak disiplin datang ke banjar lebih dicemooh daripada orang yang disiplin datang ke kantor sebagai PNS. Hal yang menjadi ironis adalah lembaga ini menghalalkan kegiatan yang dilarang agama dan pemerintah, seperti perjudian. Dan yang lebih miris lagi adalah dalam upacara keagamaan, lembaga adat menjunjung kebiasaan tersebut sebagai bagian yang tak terpisahkan yang justru dianggap sebagai bagian yang menunjang pelaksanaan upacara keagamaan tersebut agar lebih meriah. Misalnya minum minuman keras di tempat suci atau rumah warga agar tetap dapat terjaga semalaman.

Banjar sebagai lembaga sosial, menjadi organisasi yang mengatur urusan dan masalah sosial. Misalnya masalah perkawinan, warisan, pengangkatan dan kematian diurus oleh banjar. Sehingga seakan-akan terkadang aparat negara menjadi disfungsi. Padahal tidak setiap warga bersedia memakai aturan adat untuk masalah publik seperti tersebut. Mereka lebih memilih hukum negara. Tetapi lembaga tersebut bersikeras seakan-akan hukum adatnya sebagai hukum tertinggi. Padahal sudah jelas asas hukum lex superior derogat legi inferiori yang berarti bahwa hukum adat bukanlah satu-satunya hukum untuk masalah yang ada dalam masyarakat adat itu sendiri. Bagi warga setempat yang tidak mematuhi hukum adat atau tidak tergabung ke dalam lembaga tersebut, ia seakan diancam untuk dicemooh dan dikucilkan serta tidak terpenuhinya kebutuhan sosialnya. Padahal setiap warga negara berhak mendapat layanan publik dari pemerintah tanpa ada gangguan dari lembaga adat, dan lembaga adat sesungguhnya tidak punya otoritas membatasi layanan publik WNI apapun latar belakangnya.

Banjar-banjar yang seperti tersebut di atas berarti bahwa:

  1. Tidak memahami batas-batas otoritasnya
  2. Menyebabkan citra agama Hindu menjadi buruk baik bagi umat sendiri maupun umat lain
  3. Tidak memahami perbedaan kemampuan warga
  4. Tidak memahami dharma negara
  5. Tidak memahami kedudukannya sebagai WNI dan seorang penganut Hindu
  6. Menyebabkan warganya bisa berpindah ke agama lain
  7. Menyebabkan mudahnya umat lain mengalihagamakan warganya
  8. Terlalu menjunjung tinggi budaya di atas agama dan negara
  9. Tidak memahami batas antara agama dan budaya
  10. Merenggut hak-hak individu demi kepentingan kelompok yang padahal tidak  dimaksudkan untuk mensejahterakan keseluruh anggotanya (demokrasi)
  11. Agama Hindu dijadikan sebagai agama kelompok
  12. Tidak melestarikan agama Hindu
  13. Menimbulkan ketimpangan sosial antar warga
  14. Menimbulkan prasangka dan antipati antarwarga karena saling tidak memahami latar belakang

Pada dasarnya banjar adalah lembaga adat/budaya. Yang tidak memiliki hak penuh mengatur ke-Hindu-an orang lain/anggotanya. Tidak berhak memaksakan warga setempat untuk turut berkecimpung apalagi dengan berbagai ancaman. Dan orang-orang banjar yang terlalu mengagungkan budayanya ini harus belajar banyak dari generasi mudanya di Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma mengenai kedudukan sosialnya. Dalam Asta Prastya KMHDI poin ke-2 dinyatakan: “Kami Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia, senantiasa berpegang teguh pada hukum agama dan hukum negara.”

Banjar yang ideal:

  1. Mampu menumbuhkan semangat kekeluargaan antar warga
  2. Tidak memberatkan warga sembarangan dengan pemaksaan
  3. Menghormati hak-hak setiap individu
  4. Mengayomi warga untuk tetap teguh di jalan Hindu Dharma
  5. Aktif menjaga dan melestarikan budaya
  6. Mengetahui batas-batas kewenangan sebagai lembaga
  7. Mengajak generasi muda lebih aktif terhadap hal-hal yang bermanfaat baik bagi budaya, agama dan negara
  8. Membuat aturan-aturan yang tidak melenceng dari hukum negara dan hukum agama Hindu
  9. Memahami bahwa agama Hindu adalah agama individu
  10. Bijaksanan dalam menindak setiap masalah di masyarakat
  11. Bersedia membantu layanan publik
  12. Bersedia gotong royong dengan ikhlas dan tanpa terpaksa
  13. Saling hormat-menghormati tanpa memandang perbedaan latar belakang
  14. Memberlakukan peraturan yang bermanfaat untuk bersama (musyawarah dan mufakat)

Sattvam dan Viśuddha-sattvam

Oṁ Svastyastu,

KESIMPULAN: Umat Hindu cenderung kurang memahami tentang Tri Guṇa dalam bertindak berkaitan dengan tujuan akhir kita yaitu mokṣa. Kerap kali mereka mengkonsepkan Tri Guṇa dengan pendapat pribadi. Sehingga nilai-nilai rohani asli yang ada dalam Veda sama sekali tidak tersentuh.

ULASAN: Pernahkah kita berpikir bahwa dengan berbuat baik saja, apakah sudah cukup untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan alias memperoleh mokṣa? Kita mengenal adanya Tri Guna, yaitu tiga sifat yang mempengaruhi manusia. Tetapi, sesungguhnya ketiga sifat ini bersifat material. Tiga sifat material yang mempengaruhi makhluk hidup. Mengapa? Benarkah?

Mungkin banyak orang mengatakan belum cukup sebab kita harus rajin bersembahyang atau melakukan ritual tertentu. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah melakukan upacara keagamaan itu juga bukan sifat baik?

Berbuat baik itu bisa berupa berderma atau menyumbang atau memberi bantuan, sopan santun, ramah tamah, menghormati dan menghargai orang lain, suka menolong dan sebagainya. Semua hal tersebut bersifat sattvam. Tetapi contoh-contoh tindakan sattvam bukan cuma itu, melakukan ritual keagamaan pun juga bersifat sattvam. Misalnya di Lombok, ada upacara Mulang Pakelem di gunung Rinjani dalam rangka permohonan untuk keseimbangan alam. Di Pura-Pura atau di sanggah sendiri ada upacara piodalan. Dan beragam upacara keagamaan lainnya di berbagai daerah.

Sebenarnya apa sih yang ada dibalik hal-hal yang bersifat sattvam? Atau, tawaran apa yang kita dapatkan apabila kita berlaku sattvam dalam segala hal? Sifat tamaḥ dengan sikap malas akan menyebabkan kita menjadi bodoh. Sifat rajaḥ dengan sikap agresif dan nafsu membuat kita menjadi penuh keserakahan. Dengan sifat sattvam akan menjadikan diri kita mendapatkan pahala.

Pahala seperti apa? Dengan melakukan ritual misalnya, dengan begitu kita bisa memperoleh surga atau memperoleh jagadhita (kemakmuran dan kesejahteraan di dunia). Dia yang tamaḥ akan terperosok ke neraka sedangkan mereka yang rajaḥ akan menetap di bumi. Lapisan planet-planet pun diliputi oleh Tri Guṇa. Planet-planet surga diliputi oleh sifat sattvam. Planet bumi cenderung diliputi sifat rajaḥ sedangkan planet-planet nereka diliputi sifat tamaḥ.

Intinya, kita banyak melalukan beragam sikap yang bersifat sattvam dengan tujuan untuk memperoleh pahala. Bahkan melakukan upacara keagamaan pun adalah untuk memperoleh pahala.

Banyak orang dengan cara yang bijaksana mengatakan bahwa untuk kehidupan yang seimbangan maka Tri Guṇa kita pun harus seimbang. Berpikir atau berkeinginan untuk berbuat sattvam, perlu adanya rajaḥ sebagai penunjang atau pendorong, dalam bentuk kemauan dan semangat yang kuat untuk melakukan kebaikan. Kita pun harus tamaḥ jika kita diajak berbuat adharma. Begitu kata orang kebanyakan. Apakah kerohanian yang diajarkan Veda sebatas ini?

Pemahaman akan Tri Guṇa seperti itu sama sekali tidak akan mendekatkan diri kita kepada Tuhan atau menjauhkan kita dari ikatan duniawi. Sebagaimana yang diuraikan dalam Bhagavad-gītā 2.42-43 contohnya:

“Orang yang kekurangan pengetahuan sangat terikat pada kata-kata kiasan dari Veda, yang menganjurkan berbagai kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan pahala agar dapat naik tingkat sampai planet-planet surga, kelahiran yang baik sebagai hasilnya, kekuatan dan sebagainya. Mereka menginginkan kepuasan indria-indria dan kehidupan yang mewah, sehingga mereka mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang lebih tinggi dari ini. Wahai putera Pṛtha.”

Apa yang kurang dari pengetahuan tentang sifat-sifat yang mempengaruhi makhluk hidup? Viśuddha-sattvam. Apa itu viśuddha-sattvam?

Ketika ada orang kelaparan dan mengalami penyakit, lalu kita bergegas memberinya makanan dan mengusahakan pengobatan untuk kesembuhannya. Berarti kita sedang bertindak dalam sifat sattvam. Tetapi bagi orang yang berada dalam sifat viśuddha-sattvam tidak hanya sebatas itu. Tanpa mengharapkan pahala, orang yang demikian akan mengusahakan agar orang lain turut bebas dari ikatan duniawi. Mereka menyebarkan ilmu pengetahuan tentang kebenaran atau kerohanian.

Sementara ini, kita adalah jiwa dan raga. Tetapi kita yang sesungguhnya adalah jiwa. Kita hanya menetap sementara di badan ini yang suatu saat akan meninggalkan badan ini. Sebagai manusia, setelah kita mengetahui bahwa sementara ini kita adalah jiwa dan raga. Maka pemenuhan kebutuhan raga tidaklah cukup. Jiwa ini juga harus dipenuhi kebutuhannya. Apa kebutuhan jiwa? Adalah ilmu pengetahuan rohani ditambah makanan rohani yang disebut prasādam. Tapi kebutuhan ini yang kurang diperhatikan sehingga pengetahuan tentang Tri Guṇa menjadi sempit.

Jika kita ingin memperoleh pembebasan agar bisa kembali pada Tuhan alias mokṣa, maka kita harus meninggalkan ketiga sifat alam material yang disebut Tri Guṇa. Kita harus bersifat viśuddha-sattvam. Menyerahkan bhakti sepenuhnya kepada Tuhan tanpa embel-embel harapan atau pahala kemakmuran dan kesejahteraan. Begitu juga ketika membantu orang lain. Kita harus bebas dari sifat tamaḥ yang menyebabkan kebodohan dan mengantarkan kita ke neraka. Kita harus bebas dari sifat rajaḥ agar bebas dari kelahiran ulang di planet bumi ini. Kita pun harus bebas dari sifat sattvam yang membuat kita mendapatkan kenikmatan surgawi. Kita harus membuat diri kita diliputi oleh “kebaikan murni” – viśuddha-sattvam.

TIPS: Kamus Bahasa Sanskerta Online

Om Swastyastu, Hare Krishna!
Mungkin sebagian dari kita sedang atau sering ingin mencari arti kata Sanskerta tertentu. Namun bingung harus mencari di mana. Sekalipun telah menemukan jawaban, kita sering kebingungan sebab referensi yang satu dengan yang lainnya memberikan terjemahan yang berbeda, bahkan sangat jauh. Nah, dalam kesempatan ini saya mencoba memberikan tips untuk mencari alternatif kamus bahasa Sanskerta. Tetapi ini hanya bisa dilakukan secara online. Dan terjemahannya hanya ke dalam bahasa Inggris. Tetapi, terjemahan yang diberikan begitu jelas. Sebab untuk satu kata ada berbagai terjemahan dengan konteksnya masing-masing. Sehingga kita dapat memahami arti kata Sanskerta tertentu disesuaikan dengan contoh konteks slokanya. Lebih dari itu, Anda juga akan dapat menemukan kata tersebut dalam frase tertentu. Sehingga Anda bisa lebih memahami kata-kata Sanskerta secara lebih luas. Bukan cuma itu, bahkan Anda akan dapat mengetahui tanda baca apa yang digunakan.

Anda hanya perlu membuka website srimadbhagavatam.com. Jika Anda ingin mencari arti kata tertentu, maka langkah yang harus Anda lakukan adalah sebagai berikut:

  • Tentukan huruf pertama dari kata tersebut, misalnya kata jaya, huruf pertamanya adalah J
  • Anda harus mengetik seperti ini: srimadbhagavatam.com/j/jaya
  • Formatnya adalah srimadbhagavatam.com/[huruf pertama dari kata yang ingin dicari]/[kata yang ingin dicari]
Contoh lainnya adalah: srimadbhagavatam.com/r/rama, srimadbhagavatam.com/v/vivaha
Semoga tips ini bermanfaat.
Shantih Om.

Cara Menulis Aksara Devanagari dengan Microsoft Word

Dokumen ini merupakan sebuah tutorial bagaimana menulis dengan Akṣara Devanāgarī di Microsoft Word. Mengapa dengan Microsoft Word? Sebab Microsoft Word adalah program pengolah kata yang paling terbaik dan juga paling mendukung Akṣara Devanāgarī.

8 Prinsip Brahmacari

Berikut adalah kutipan dari hasil seminar “Remaja dan Seks Pra-Nikah” yang diadakan di aula STAHN Gde Pudja Mataram yang disampaikan oleh Prof. I Ketut Widnya selaku Ketua STAHN. Bahwa brahmacārī bukan sekadar menuntut ilmu, tetapi juga hidup spiritual dan melakukan latihan (sadhana) disiplin rohani. Sedangkan 8 prinsip brahmacārī adalah TIDAK:
  1. Berpikir tentang wanita (hanya melihat kaki karena wanita adalah ibu).
  2. Berbicara tentang hubungan suami istri.
  3. Berduaan dengan wanita.
  4. Melihat wanita dengan pikiran nafsu.
  5. Berbicara akrab dengan wanita.
  6. Memutuskan untuk melakukan hubungan seks.
  7. Berusaha untuk melakukan hubungan seks.
  8. Melakukan hubungan seks.

Akan Terbit Perdana: Psikologi Umat Hindu

Psikologi Agama Hindu

Oṁ Swastyastu, Hare Kṛṣṇa!

Mungkin pengunjung setia Vedasastra sering bertanya mengapa situs ini nyaris tidak pernah update. Sebab Vedasastra sedang menyusun buku perdananya. Berkat permintaan dan dorongan serta dukungan dari teman-teman Vedasastra dan sahabat-sahabat dharma lainnya serta juga pembimbing Vedasastra selama ini, akhirnya, Vedasastra akan menerbitkan buku perdananya. Walau buku ini belum tentu bisa menjadi udara segar bagi para pembaca sebab buku ini ditulis oleh selembar daun yang masih sangat hijau dan muda. Akan tetapi, beberapa hal yang berarti bahkan sangat berarti masih dapat ditemukan di dalamnya.

Buku ini tidak diawali dengan penelitian secara langsung dan menyeluruh sebelumnya, namun menggunakan metode pengamatan lokal disertai dengan pengumpulan laporan-laporan dari berbagai sumber. Alasan pengambilan judul juga termuat di dalam buku ini.

Berikut adalah daftar babnya:

  1. Awal Cerita
  2. Sanātana Dharma, Nama Aslinya
  3. Mengapa Kita Beragama Hindu?
  4. Mengapa Berhenti Menjadi Hindu?
  5. Tantangan Menjadi Hindu
  6. Zaman Kali, Zaman Kekacauan
  7. Tri Hita Karana
  8. Sayang, Cuma Sekadar Simbol dan Syarat
  9. Balisentris
  10. Bhagavad-gītā, Oh Bhagavad-gītā
  11. Semua Agama Sama Saja
  12. Menengok Tanah Leluhur Saya
  13. Penyelamatan dan Penebusan Dosa
  14. Siwa-Buddha: Filsafat, Sejarah dan Vegetarian
  15. Is Hindu Bali “The Real Hindu?”
  16. Potret Vaiṣṇava Kini
  17. Mokṣa
  18. Primordialisme Suku – Bangsa
  19. Akhir Cerita

1. Awal Cerita

Dalam bab ini, sebuah pengantar yang berkaitan psikologi, beberapa istilah yang kerap dipakai dan ada sebuah istilah penting di dalamnya yang wajib diketahui oleh setiap tokoh budaya (ke-Hindu-an), tokoh agama Hindu berupa intelektualis dan pemimpin agama.

2. Sanātana Dharma, Nama Aslinya

Dalam beberapa kasus, penting mengetahui nama asli agama kita sendiri. Di balik nama yang indah, seharusnya wajib disertai dengan kelakuan yang indah bukan? Orang Jawa bilang “ngelakon gak ngelakoni”, jadi jangan sampai mengaku menjadi Hindu namun tidak bersikap sesuai yang diajarkan agama Hindu.

3. Mengapa Kita Beragama Hindu?

Walaupun banyak jawaban, tetapi jawaban yang tepat untuk kita secara umum adalah karena kita lahir dari orang tua yang beragama Hindu dan karena kita dididik secara Hindu. Akan tetapi, tidak semua orang Hindu menjadi Hindu karena itu. Perlukah tetap menjadi Hindu?

4. Mengapa Berhenti Menjadi Hindu?

Ada orang yang memilih menjadi Hindu, ada pula yang memilih untuk berhenti menjadi Hindu. Kira-kira mengapa mereka memilih berhenti menjadi Hindu? Tentu ada banyak faktor. Baik bermotif ekonomi, maupun pendidikan.

5. Tantangan Menjadi Hindu

Hidup di tengah masyarakat yang mayoritas non-Hindu, pasti memberikan tantangan tersendiri. Namun, tantangan ini tidak akan muncul dalam masyarakat yang mayoritas Hindu, misalnya di Bali. Tantangan seperti apa? Bagaimana dampak tantangan tersebut terhadap kejiwaan umat Hindu yang tinggal di mayoritas non-Hindu? Dan bagaimana dampak tidak adanya tantangan bagi umat Hindu yang tinggal di lingkungan mayoritas Hindu?

6. Zaman Kali, Zaman Kekacauan

Dalam pelbagai diskusi, sesuai sastra saya katakan bahwa semakin waktu berjalan maka zaman akan semakin merosot. Beberapa non-Hindu membantah, sebab faktanya teknologi semakin berkembang. Lalu mana yang benar? Dalam mata kuliah Filsafat, dosen saya pernah bertanya dan saya tahu itu bukan pertanyaan serius, beliau bertanya, “Saya bingung sebenarnya zaman ini semakin maju atau semakin merosot?” Secara spontan saya menjawab, “Kemajuan teknologi, kemunduran moral,” dan beliau pun langsung tertawa mendengar jawaban saya tersebut. Dalam bab ini sedikit membahas bagaimana menyikap perkembangan zaman dengan baik.

7. Tri Hita Karana

Umat Hindu Bali bisa berbangga sebab teori asli Bali yang memuat sadar lingkungan (Palemahan) ini diakui dan dikagumi oleh dunia. Sampai-sampai Australia mulai meniru kegiatan Nyepi dengan melakukan pemadaman listrik secara menyeluruh selama satu jam. Faktanya, sadar lingkungan hanya dilakukan secara simbolis melalui serangkaian ritual tradisi keagamaan. Sedangkan praktek sehari-hari tidak sepadan dengan teori yang dicetuskan dalam perbandingannya dengan bangsa lain yang sadar lingkungan tanpa pernah mengumbar teori tentang sadar lingkungan. Benarkah demikian? Lebih dari itu, sosial pun hanyalah sekadar teori. Di balik kegiatan serba adopsi budaya bangsa lain, suku Bali yang beragama Hindu tidak menujukkan nilai-nilai Pawongan. Benarkah demikian?

8. Sayang, Cuma Sekadar Simbol dan Syarat

Sembahyang mencari akal, rukuk mencari kira-kira… Terkadang beragama hanya sekedar sebagai formalitas, mungkin sebagai WNI atau warga adat tertentu. Sebab, makna mulia yang terkandung dalam ritual keagamaan sering diakhiri dengan tindakan-tindakan adharma. Ehm…

9. Balisentris

Seperti bangsa Inggris, Portugis dan Spanyol serta bangsa-bangsa Eropa lainnya yang ingin menaklukan bangsa lain dengan menanam pengaruh di daerah jajahannya yaitu misi 3G (gold (kekayaan), glory (kejayaan) dan gospel (penginjilan)), seolah-olah suku Bali melakukan hal serupa dengan mem-Bali-kan suku lain yang beragama Hindu atas nama agama. Apa yang harus dilakukan?

10. Bhagavad-gītā, Oh Bhagavad-gītā

Sebuah kitab suci (Hindu) yang paling terkenal di seluruh penjuru dunia karena kemahabijaksanaan yang terkandung di dalamnya, menyebabkan penggunaannya dilatarbelakangi dengan motif-motif tertentu oleh sebagian orang. Ada yang memakainya setengah-setengah untuk kepentingan tertentu? Seperti apakah aromanya? Bukan cuma itu, bab ini juga memuat beberapa pandangan intelektual Hindu terhadap Avatara beserta kegiatan-Nya di dunia material ini.

11. Semua Agama Sama Saja

Banyak yang memandang bahwa orang Hindu begitu bijaksana karena menyatakan bahwa semua agama itu sama. Bab ini membahas mengapa orang Hindu khususnya orang Bali suka mengatakan semua agama sama. Berdasarkan pemungutan suara yang penulis lakukan, dari 327 umat Hindu dari berbagai latar belakang:

139 orang menyatakan semua agama sama saja.

188 orang menyatakan semua agama tidak sama.

Benarkah semua agama sama?

12. Menengok Tanah Leluhur Saya

Mengingat Indonesia yang begitu luas, maka penulis tidak mungkin melakukan pengamatan terhadap seluruh umat Hindu di Indonesia. Sebagai gantinya, penulis menjadikan Bali sebagai perwakilan. Dalam beberapa hal pasti ada kesamaan antara umat Hindu di Bali dengan di luar Bali, dan yang pasti dalam saat yang sama juga pasti ada perbedaan. Tingkah polah umat Hindu di Bali dapat memberikan pelajaran tersendiri bagi kita yang bukan suku Bali untuk menjadi seorang Hindu yang benar-benar Hindu.

13. Penyelamatan dan Penebusan Dosa

Setiap agama mengindikasikan adanya ajaran tentang penebusan dosa. Dalam bab ini mengawali prinsip untuk bagaimana menyikapi ajaran tersebut secara bijak.

14. Siwa-Buddha: Filsafat, Sejarah dan Vegetarian

Memuat hipotesa atau dugaan sementara, bab ini mengungkit sejarah antara agama Buddha dan lahirnya konsep Siwa-Buddha. Turut memuat filsafat yang diajarkan kedua Pribadi Mulia ini di mana filsafat dan sejarah akan sangat berkaitan erat dengan vegetarian.

15. Is Hindu Bali “The Real Hindu?”

Benarkah Hindu Bali adalah Hindu sejati atau Hindu yang sesungguhnya? Jika iya, bagaimana dengan Hindu dari suku-suku yang lainnya? Salahkah sehingga harus mengalami Balinisasi? Temukan jawabannya dalam bab ini.

16. Potret Vaiṣṇava Kini

Setiap orang memiliki kepribadian, temperamen dan watak tertentu. Begitu pula dengan viṣṇava yang sekarang (junior) dengan yang dulu (senior), juga dengan vaiṣṇava yang satu dengan vaiṣṇava yang lain serta antara vaiṣṇava dengan orang Hindu biasa. Sebelumnya simak dulu pengertian vaiṣṇava pada awal bab ini.

17. Mokṣa

Percayakah Anda bahwa mokṣa sebagai tujuan akhir umat Hindu adalah tergolong sebagai teori belaka dalam sebagian besar umat Hindu di Nusantara? Bab ini juga memuat pengertian tentang mokṣa yang ada di badan masyarakat tertentu dan dalam pustaka suci Veda itu sendiri. Pertanyaan tentang bagaimana memperoleh mokṣa juga termuat dalam bab ini.

18. Primordialisme Suku – Bangsa

Primordialisme berarti sikap cinta terhadap tradisi, adat-istiada, budaya, suku dan keyakinan yang dibawa sejak kecil. Bab ini mengupas bagaimana primordialisme berbagai bangsa internasional dan suku di Nusantara yang berkaitan erat dengan jiwa ke-Hindu-an kita. Sebagai selingan menarik, penulis menyampaikan suatu pengalamannya sebagai korban primordialis budaya.

19. Akhir Cerita

Setiap awal pasti ada akhir, itulah hukum suatu perjalanan. Tetapi hukum tersebut tidak berlaku untuk Tuhan. Perjalanan hidup pasti diawali dengan kelahiran dan pasti berakhir dengan kematian. Sebelum sampai pada detik-detik kematian, kita pasti punya suatu tujuan. Entah tujuan duniawi maupun rohani. Bab ini mengingatkan kembali sejarah pendek tentang pembacaan bab-bab sebelumnya. Sehingga akan memberikan suatu deskripsi bagaimana proses dan hasil dari berbagai tujuan yang sedang dicapai atau sudah dicapai. Berharap bab pembahasan terakhir ini dapat memberikan gambaran mengenai langkah mana yang harus diambil sebelum terlambat.

Dengan menganggap sebagai makanan yang bergizi, penulis siap menerima kritik dan saran dari siapapun dari buku ini. Harapan besar menyertai agar buku ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca demi tegakknya dharma di Nusantara. Jika sudah terbit, jangan lewatkan kesempatan untuk memiliki buku ini.

Salam hangat,

Vedasastra.

Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Oṁ, Harebolo!